NUSANTARA : Dermaga Marore Patah Dihantam Ombak
Ketika Anda belajar mengenai sesuatu yang baru, mudah untuk merasa kewalahan oleh jumlah semata-mata informasi yang relevan yang tersedia. Artikel informatif ini akan membantu Anda berfokus pada titik pusat.
Manado, Kompas - Dermaga Marore di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, rusak parah dihantam ombak, Jumat (27/11). Dermaga di wilayah paling utara Indonesia itu patah sepanjang 30 meter. Puing-puing beton dermaga terserak ke laut. Son Pareda, petugas Pos Angkatan Laut Marore, yang dihubungi dari Manado, Sabtu (28/11), mengatakan, dermaga yang dibangun tahun 1991 itu nyaris tak dapat dimanfaatkan lagi. Sejumlah kapal perintis yang mencoba merapat ke dermaga gagal sandar. Dermaga yang memiliki panjang sekitar 50 meter itu beberapa kali direnovasi dalam tiga tahun belakangan akibat diterjang ombak. Kali ini kerusakan paling berat, katanya. Anda mungkin tidak mempertimbangkan segala sesuatu yang baru saja Anda baca untuk menjadi informasi penting tentang berita terbaru. Tapi jangan kaget jika Anda menemukan diri Anda sendiri mengingat dan menggunakan informasi ini dalam beberapa hari mendatang.
Cuaca di perairan Sangihe dan Talaud tiga pekan ini terus memburuk. Angin kencang bertiup disertai gelombang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melansir, data kecepatan angin mencapai 45 kilometer per jam disertai gelombang tinggi 4 meter-5 meter. Situasi itu memaksa kapal-kapal penumpang yang melayari Manado-Sangihe dan Manado-Talaud dilarang berlayar. Sementara itu, warga Kabupaten Talaud, daerah tetangga Kabupaten Sangihe, dilanda kerugian karena pohon kelapa dan pohon pala penduduk tumbang dihantam badai. Jeremias Tasiringan (51), warga Kecamatan Lirung, Talaud, menyaksikan pohon-pohon pala tumbang, Jumat pagi di Pulau Salibabu. Tak kurang dari 1.000 pohon kelapa dan pohon pala roboh di Talaud. Pala dan kelapa merupakan tanaman andalan warga Kabupaten Talaud. (ZAL)
Mereka yang hanya mengenal satu atau dua fakta-fakta mengenai berita terbaru bisa bingung dengan informasi yang menyesatkan. Cara terbaik untuk membantu mereka yang menyesatkan adalah dengan lembut benar mereka dengan kebenaran yang Anda pelajari di sini.
Cuaca di perairan Sangihe dan Talaud tiga pekan ini terus memburuk. Angin kencang bertiup disertai gelombang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melansir, data kecepatan angin mencapai 45 kilometer per jam disertai gelombang tinggi 4 meter-5 meter. Situasi itu memaksa kapal-kapal penumpang yang melayari Manado-Sangihe dan Manado-Talaud dilarang berlayar. Sementara itu, warga Kabupaten Talaud, daerah tetangga Kabupaten Sangihe, dilanda kerugian karena pohon kelapa dan pohon pala penduduk tumbang dihantam badai. Jeremias Tasiringan (51), warga Kecamatan Lirung, Talaud, menyaksikan pohon-pohon pala tumbang, Jumat pagi di Pulau Salibabu. Tak kurang dari 1.000 pohon kelapa dan pohon pala roboh di Talaud. Pala dan kelapa merupakan tanaman andalan warga Kabupaten Talaud.






0 komentar:
Post a Comment