Saturday, November 28, 2009

NUSANTARA : Narapidana Merasa Tidak Aman

Artikel ini menjelaskan beberapa hal tentang berita terbaru, dan jika Anda tertarik, maka ini patut dibaca, karena Anda tidak pernah tahu apa yang Anda tidak tahu.

Jayapura, Kompas - Narapidana politik di Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Jayapura, Buchtar Tabuni, merasa terancam nyawanya jika lembaga itu menampung lagi tahanan militer. Ia menilai, disiplin sipir perlu ditingkatkan agar pengeroyokan tidak terulang.

Jauh hari sebelum terjadi pengeroyokan, para pelaku sudah bertanya-tanya kepada teman- teman saya tentang saya, kata Buchtar Tabuni, Sabtu (28/11). Ia didampingi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Jayapura, Anthonius Ayorbaba. Pernyataan terpidana kasus makar ini sekaligus menepis isu bahwa Buchtar Tabuni telah mati dibunuh.

Para pelaku pengeroyokan yang berpangkat Prajurit Satu dan Prajurit Dua TNI, kata Buchtar, kerap mengintimidasinya. Akhirnya, Kamis malam itu, terjadi percekcokan mulut antara Buchtar dan para tahanan militer yang berujung pada penganiayaan Buchtar.

Tiga tahanan oditur militer dan seorang tahanan polisi mengeroyok Buchtar hingga Buchtar mengalami luka di dagu, kepala, dan mulut. Penjaga (berinisial TA) tidak dapat mengontrol kondisi karena sedang mabuk berat, kata Buchtar.

Esok harinya, Jumat, rekan- rekan Buchtar mengamuk dan mengejar para pelaku penganiayaan. Selain mengejar pelaku, mereka juga merusak kantor LP, memecahkan lima komputer, perabotan, dan kaca jendela.

Mudah-mudahan informasi yang disajikan sejauh ini telah berlaku. Anda mungkin juga ingin mempertimbangkan berikut ini:

Kepala LP Abepura Ayorbaba mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki ihwal sipir penjara yang mabuk saat bertugas. Ia memastikan sipir yang mabuk bakal dikenai sanksi disiplin.

Tentang keberadaan tahanan militer, Ayorbaba menuturkan, saat kejadian ada empat tahanan titipan dari oditur militer Jayapura. Seorang di antaranya divonis dua tahun dan telah dipecat dari kemiliteran. Adapun tiga lainnya masih aktif dan divonis delapan bulan. Mereka dititipkan di LP Abepura karena Rumah Tahanan Militer di Waena, Jayapura, penuh. Tidak cukup biaya untuk membawa para tahanan militer ke Makassar. Dengan kejadian ini, Ayorbaba memastikan LP Abepura tidak lagi menerima titipan tahanan militer.

Mengenai perusakan dan penganiayaan, Kepala Seksi Keamanan LP Abepura Gustaf Rumakewi menyatakan telah memeriksa empat personelnya. Ia mengakui, saat ini pengamanan LP Abepura masih lemah. Idealnya, seorang petugas mendampingi 10 narapidana. Tapi, di Abepura, satu petugas mendampingi 25 narapidana.

Dari sisi kapasitas, LP Abepura juga melebihi batas. Ia mengatakan, kapasitas LP Abepura menampung 230 narapidana, tapi kini diisi 298 narapidana.

Di LP Abepura kini ada delapan narapidana politik. Sejak terjadinya perusakan dan penganiayaan, petugas LP merazia kamar-kamar sel. Petugas menyita telepon seluler, silet, balok kayu, dan batang besi.

Oditur Militer telah memindahkan seluruh tahanan militer dari LP Abepura ke Rumah Tahanan Militer Waena. Oditur militer juga memastikan tidak lagi menitipkan tahanan ke LP Abepura yang peruntukannya bagi sipil. (ich)

Kadang-kadang sulit untuk memilah-milah semua detail yang berkaitan dengan subjek ini, tapi aku positif Anda tidak akan kesulitan untuk memahami informasi yang disajikan di atas.

0 komentar: