Artikel berikut menyajikan informasi paling terakhir pada berita terbaru. Jika Anda memiliki minat khusus dalam berita terbaru, maka artikel informatif ini diperlukan membaca.
Banyumas, Kompas - Hujan yang terus turun dan jebolnya tanggul sungai membuat banjir di ribuan hektar sawah di tiga kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tidak kunjung surut. Petani dipastikan mengalami gagal tanam. Mereka berharap ada bantuan benih untuk menanam ulang. Dari catatan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Selasa (8/12), ada 1.650 hektar lahan padi yang tergenang air, yaitu di Kecamatan Sumpiuh, Tambak, dan Kemranjen, yang merupakan lumbung padi utama di Banyumas. Di lahan yang genangan airnya kurang dari 30 sentimeter, sejumlah petani sibuk mencabut tanaman padi yang masih bisa diselamatkan. Petani yang lahannya tergenang air di atas 30 sentimeter hanya bisa menunggu air surut. Kami bisanya menunggu sampai kering. Bisa seminggu, dua minggu, bahkan sebulan, kata Arsadimija (62), petani Desa Gebangsari, Kecamatan Tambak. Lahan padi Arsadimija seluas 3.000 meter persegi dilanda banjir. Pasti sudah lodhok (busuk) semua. Apalagi benih yang ditanam agak rewel. Terendam sehari saja sudah mati. Benih unggul harganya mahal, sekantong Rp 35.000. Akhirnya beli benih biasa Rp 27.000 sekantong, katanya. Daroni (65), petani lain di Tambak, mengatakan, kerugian akibat banjir Rp 200.000 per ubin (100 ubin sama dengan 1.400 meter persegi) atau Rp 1,4 juta per hektar. Biaya itu untuk membeli benih 10 kantong per hektar, ongkos buruh garap, menyewa traktor, dan biaya lain. Padahal, uangnya ada yang pinjaman. Syukur kalau pemerintah mau membantu kami, kata Daroni. Kepala Dinas Pertanian Banyumas Wisnu Hermanto mengatakan, saat ini Pemerintah Kabupaten Banyumas mengajukan bantuan dana kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membantu para petani korban banjir. Namun, jumlah bantuan belum dapat dipastikan. Kadang-kadang aspek yang paling penting dari suatu subjek tidak segera jelas. Jauhkan membaca untuk mendapatkan gambaran yang lengkap.
Diimbau waspada Petani di pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diimbau lebih cermat memulai tanam musim rendeng. Sebagian pemilik atau penggarap diminta menunda penanaman karena berada di daerah rawan banjir. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang Nachrowi Muhamad Nur, Selasa (8/12) di Karawang, mengatakan, petani pesisir utara merugi akibat banjir Januari lalu. Ketika itu, sawah mereka telah diolah, ditanami, dan dipupuk. Tanaman padi puso karena tergenang air selama 4-7 hari. Curah hujan di Karawang Desember ini, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, masih di bawah normal. Namun, petani perlu mewaspadai peluang banjir pada Januari-Februari, katanya. Persawahan rawan banjir tersebar di sejumlah desa di kecamatan pesisir utara Karawang, seperti Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Tempuran, Pedes, Cilebar, Cibuaya, Batujaya, dan Pakisjaya. Pada Februari 2007 dan Januari 2009, belasan ribu hektar sawah di daerah itu tergenang air. Ribuan hektar di antaranya harus ditanami ulang karena padi puso. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Karawang Ijam Sujana mengatakan, sebagian petani menunda penanaman dan mengabaikan jadwal penggiliran air untuk menghindari banjir. Penundaan terjadi di sebagian sawah golongan air III dan IV di pesisir utara. Mereka menunggu situasi memungkinkan untuk pengolahan, penyemaian, dan penanaman, biasanya mulai pertengahan hingga akhir Februari. Jika mengabaikan cuaca, risikonya merugi karena banjir, katanya. Selain akibat jebolnya beberapa titik tanggul Sungai Citarum, banjir besar pada awal tahun 2007 dan 2009 di Karawang disebabkan meluapnya Sungai Cibeet, Cibulan-bulan, Ciderawak, dan sejumlah sungai kecil yang bermuara di Laut Jawa. Genangan air di persawahan pesisir utara terkadang sulit surut karena ada air laut pasang. (HAN/MKN)
Nah, itu tidak sulit sama sekali, bukan? Dan kau telah memperoleh kekayaan pengetahuan, hanya dari mengambil beberapa waktu untuk mempelajari kata-kata seorang pakar pada berita terbaru.
0 komentar:
Post a Comment