Artikel berikut menyajikan informasi paling terakhir pada berita terbaru. Jika Anda memiliki minat khusus dalam berita terbaru, maka artikel informatif ini diperlukan membaca.
Banyumas, Kompas - Hujan deras disertai angin kencang dalam dua hari terakhir menyebabkan tanaman padi seluas 1.800 hektar tergenang air. Rinciannya, 1.500 hektar terletak di 3 kecamatan di Banyumas dan 300 hektar lain di 2 kecamatan di Cilacap, Jawa Tengah. Hujan juga menyebabkan tanah longsor di Desa Petarangan, Kecamatan Tambak, Banyumas. Dua rumah warga rusak berat, Senin (7/12). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, tetapi longsor menyebabkan 42 keluarga yang tinggal di sekitar lokasi longsor mengungsi ke balai desa karena rumah mereka terancam longsor susulan. Tiga kecamatan di Banyumas yang dilanda banjir adalah Kecamatan Sumpiuh, Tambak, dan Kemranjen. Di Kecamatan Sumpiuh air menggenangi areal persawahan di 11 desa, disusul 7 desa di Kecamatan Tambak, dan 2 desa di Kemranjen. Sejumlah warga menuturkan, banjir mulai terjadi sejak Minggu malam. Senin siang mulai surut. Namun, hujan deras yang turun lagi, Senin sore, membuat wilayah banjir meluas, kata Syamsudin (47), petani di Desa Prembun, Kecamatan Tambak. Akibatnya, 1.500 tanaman padi di tiga kecamatan itu dipastikan gagal tanam. Sebagian besar lahan sudah ditanami padi 1-2 minggu lalu, sebagian lagi baru dalam tahap pembibitan. Tinggi genangan berkisar 20 sentimeter hingga satu meter. Kepala Subbagian Sosial dan Kesehatan Bagian Kesejahteraan Sosial Kabupaten Banyumas Wahyu Adi Febrianto mengatakan, hujan deras di Banyumas dalam tiga hari terakhir menyebabkan tanggul sungai tidak mampu lagi membendung air sehingga jebol. Selain merendam ribuan hektar sawah, air juga menggenangi 50 rumah di Desa Gebangsari, Kecamatan Tambak. Tinggi air berkisar 40-100 cm. Para penghuni mengungsi ke balai Desa Gebangsari karena khawatir terkena banjir susulan akibat tanggul jebol. Kami sudah mengirim bantuan pangan untuk pengungsi. Untuk yang sawahnya tergenang, kami akan merapatkan, katanya. Apakah semuanya masuk akal sejauh ini? Jika tidak, aku yakin bahwa hanya dengan sedikit lebih membaca, semua fakta akan jatuh ke tempatnya.
Di Cilacap, sekitar 300 hektar lahan padi di 4 desa di Kecamatan Kroya tergenang air dalam tiga hari ini. Lahan padi tersebut dipastikan gagal tanam. Banjir antara lain melanda Desa Mujur, Bajing, Kedawung, dan Sikampuh. Sediakan benih Musim hujan tahun lalu, air menggenangi 64.000 hektar tanaman padi di Jawa Timur dan mengakibatkan gagal panen seluas 18.000 hektar atau kehilangan produksi sebanyak 106.200 ton padi. Untuk mengantisipasi ancaman serupa, Pemerintah Provinsi Jatim menyiapkan bantuan benih padi bagi petani yang mengalami puso. Agar para petani dapat segera menanam padi, Pemprov Jatim akan memberikan bantuan benih padi 25 kilogram per hektar, kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Jatim Kusdirianto, Senin di Surabaya. Bantuan benih padi juga diberikan Pemprov Jatim pada musim kemarau tahun ini. Untuk pemberian bibit padi di lahan seluas 1.003 hektar yang mengalami puso kemarau lalu, digelontorkan anggaran sebesar Rp 650 juta. Tahun 2010, Pemprov Jatim menargetkan peningkatan produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 11,8 juta ton. Produksi GKG di Jatim tahun 2009 sekitar 11,096 juta ton dan tahun depan ditargetkan naik sebanyak 704 ton, ujar Kusdirianto. Dengan total produksi GKG sebesar 11,096 juta ton, produksi beras di Jatim menjadi 7,2 juta ton. Perum Bulog Divisi Regional Jatim mampu menyerap sebanyak 1,2 juta ton. Menteri Pertanian Suswono, Minggu di Surabaya, mengatakan, tahun 2010 pemerintah menargetkan produksi GKG secara nasional sebesar 65 juta ton. Agar persediaan beras nasional cukup, Perum Bulog harus mampu menyerap 8-10 persen produksi padi setara beras. Selama tahun 2009, produksi GKG secara nasional mencapai 63 juta ton. Dengan demikian, tahun depan diharapkan ada peningkatan produksi sebesar dua juta ton GKG, katanya. Dari perkiraan produksi GKG tahun 2010 sebanyak 65 juta ton, produksi beras yang akan dihasilkan sekitar 42 juta ton. Dengan perhitungan tingkat serapan Perum Bulog 8-10 persen, Bulog harus mampu menyerap beras petani sebanyak 4,2 juta ton. (HAN/ABK)
Sekarang Anda bisa menjadi ahli percaya diri pada berita terbaru. OK, mungkin bukan seorang ahli. Tapi Anda harus memiliki sesuatu untuk membawa ke meja lain kali Anda bergabung dengan diskusi pada berita terbaru.
0 komentar:
Post a Comment