NUSANTARA : Waspadai Ancaman Banjir dan Longsor di Jabar
Semakin Anda memahami tentang subjek apapun, yang lebih menarik menjadi. Ketika Anda membaca artikel ini Anda akan menemukan bahwa subjek dari berita terbaru jelas bukan pengecualian.
BANDUNG, KOMPAS - Potensi puso di areal pertanian Jawa Barat akibat banjir dan tanah longsor pada musim hujan masih besar. Luasan lahan puso akibat bencana selama musim tanam rendeng 2009/2010 diperkirakan mendekati kondisi musim tanam 2008/2009, yaitu 14.697 hektar. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Provinsi Jabar Helmi Anwar, Kamis (3/12) di Bandung, mengatakan, berdasarkan data lima tahun terakhir, bencana banjir dan tanah longsor tetap mengancam lahan pertanian di wilayah itu. Apalagi Jabar termasuk daerah dengan potensi pergerakan tanah yang besar, ujarnya. Rata-rata lahan yang terkena banjir dari musim tanam 2004/ 2005 hingga 2008/2009 mencapai 55.954 hektar dengan lahan puso seluas 19.492 hektar. Adapun lahan yang terkena longsor selama lima tahun terakhir rata-rata 398 hektar dengan lahan puso mencapai 244 hektar. Beberapa daerah yang termasuk rawan banjir antara lain Kabupaten Karawang dan Indramayu. Wilayah yang rawan longsor adalah Kabupaten Cianjur, Tasikmalaya, Garut, dan Sukabumi. Helmi menyatakan, ancaman banjir di lahan sawah Jabar terjadi akibat rusaknya daerah tangkapan air, saluran irigasi, sedimentasi sungai, dan sulitnya memprediksi cuaca. Banjir juga berpotensi meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman, seperti siput murbei, tikus, dan busuk pelepah, katanya. Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jabar Oo Sutisna mengatakan, untuk mengantisipasi ancaman banjir, Dispertan Jabar berharap instansi terkait, seperti dinas pengelolaan sumber daya air, memperbaiki tanggul irigasi serta mengeruk dan melebarkan sungai. Jika Anda tidak memiliki rincian yang akurat mengenai berita terbaru, maka Anda mungkin bisa membuat pilihan yang buruk pada subjek. Jangan biarkan hal itu terjadi: terus membaca.
Sementara itu, serangan hama tikus membuat petani di Kecamatan Kesugihan dan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terpaksa memanen padi lebih dini. Akibatnya, kualitas gabah rendah dan basah. Banyak bulir yang masih belum berisi. Kalau dibiarkan sampai kering, kami malah tidak bisa panen, kata Alwi (50), petani di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan. Kamis. Wilayah Kesugihan dan Maos selama ini dikenal tak pernah kesulitan air. Hampir semua petani di dua kecamatan tersebut dapat menanami sawahnya tiga kali dalam setahun. Irigasi teknis untuk areal persawahan di kawasan itu selalu lancar sepanjang tahun. Namun, kata Alwi, dari tahun ke tahun, serangan hama tikus tak terkendali. Tikus-tikus tersebut makin tahan terhadap semprotan zat kimia. Para petani sebenarnya setiap dua hari sekali rutin menggelar gropyokan atau penyerangan secara bersama-sama terhadap kawanan tikus. Setiap gropyokan, puluhan tikus dapat dibunuh. Namun, besoknya tiba-tiba sudah datang lagi. Mereka sangat cepat berkembang biak. Tikus-tikus dari daerah lain sepertinya tahu kalau kawanan tikus lama sudah dibunuh sehingga mereka berani datang, kata Kustiyah (52), petani di Desa Kesugihan Kidul lain. Alwi maupun Kustiyah terpaksa memanen padi lebih dini. Kalau mereka membiarkan padi sampai kuning, bulir-bulir padi dan batangnya bakal dimangsa lebih dahulu oleh tikus. Suprapto, penyuluh pertanian di Kecamatan Maos, mengatakan, tingginya serangan tikus itu tak terlepas dari punahnya hewan pemakan tikus di sawah, seperti ular, burung hantu, dan elang. Musuh alami tikus sudah habis. Di pihak lain, tikus-tikus bermutasi sehingga kebal terhadap bahan kimia, katanya. (GRE/HAN)
Anda tidak dapat memprediksi kapan mengetahui sesuatu yang ekstra tentang berita terbaru akan berguna. Jika Anda belajar sesuatu yang baru tentang berita terbaru dalam artikel ini, Anda harus mengajukan artikel di mana Anda dapat menemukannya lagi.
Sementara itu, serangan hama tikus membuat petani di Kecamatan Kesugihan dan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terpaksa memanen padi lebih dini. Akibatnya, kualitas gabah rendah dan basah. Banyak bulir yang masih belum berisi. Kalau dibiarkan sampai kering, kami malah tidak bisa panen, kata Alwi (50), petani di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan. Kamis. Wilayah Kesugihan dan Maos selama ini dikenal tak pernah kesulitan air. Hampir semua petani di dua kecamatan tersebut dapat menanami sawahnya tiga kali dalam setahun. Irigasi teknis untuk areal persawahan di kawasan itu selalu lancar sepanjang tahun. Namun, kata Alwi, dari tahun ke tahun, serangan hama tikus tak terkendali. Tikus-tikus tersebut makin tahan terhadap semprotan zat kimia. Para petani sebenarnya setiap dua hari sekali rutin menggelar gropyokan atau penyerangan secara bersama-sama terhadap kawanan tikus. Setiap gropyokan, puluhan tikus dapat dibunuh. Namun, besoknya tiba-tiba sudah datang lagi. Mereka sangat cepat berkembang biak. Tikus-tikus dari daerah lain sepertinya tahu kalau kawanan tikus lama sudah dibunuh sehingga mereka berani datang, kata Kustiyah (52), petani di Desa Kesugihan Kidul lain. Alwi maupun Kustiyah terpaksa memanen padi lebih dini. Kalau mereka membiarkan padi sampai kuning, bulir-bulir padi dan batangnya bakal dimangsa lebih dahulu oleh tikus. Suprapto, penyuluh pertanian di Kecamatan Maos, mengatakan, tingginya serangan tikus itu tak terlepas dari punahnya hewan pemakan tikus di sawah, seperti ular, burung hantu, dan elang. Musuh alami tikus sudah habis. Di pihak lain, tikus-tikus bermutasi sehingga kebal terhadap bahan kimia, katanya.






0 komentar:
Post a Comment